Friday, 23 February 2007

Night Watch

salah satu efek buruk dari tidur siang terlalu lama adalah sulit tidur di malam hari. selama satu semester, dengan ritme kuliah yang amat-sangat-sibuk-sampai-sampai-mau-makan-pun-tak-sempat-apalagi-main-komputer membuat waktu tidur lebih didambakan daripada VW New Beetle seri terbaru (mobil impian saya sejak lama). begitu masa liburan tiba, apa yang dilakukan? orang lain akan memilih melakukan hobinya (dari hobi yang masuk akal seperti berposting ria 12 jam non-stop sampai yang tidak masuk akal seperti nonton LOST di kompie), sedangkan saya? tidur. hari-hari libur dihabiskan kebanyakan dengan tidur. buang-buang waktu saja? bagi orang seperti saya rasanya lebih dari mendapat hadiah sebuah VW New Beetle seri terbaru (dengan kata lain 2 buah VW New Beetle seri terbaru atau lebih). tidur adalah anugrah. silakan bermimpi sesukanya. yang mengidam-idamkan Tsukamoto Yakumo (tokoh "School Rumble" favorit saya) bisa segera bermimpi untuk berkencan bersamanya. salah? jelas tidak. toh ini mimpi saya, jangan protes kalau mimpi kamu lebih aneh lagi daripada mimpi saya.

kembali lagi ke soal tidur siang, selama liburan pola hidup saya sudah lumayan aneh. di tengah siang bolong tidur dengan lelapnya, lagi gelap-gelapnya malam malah melek tak karuan. tinggal kurang telinga ala kelelawar dan selaput kulit di sela-sela jari saya maka saya berteman dengan kelelawar atau malahan Batman. apa yang kelelawar lakukan di malam hari? sudah tentu mencari makan seperti biasanya hewan berperilaku. kelelawar biasanya makan buah-buahan dari pohon. saya tidak mungkin melakukan itu (pohon di halaman rumah cuma ada mengkudu, bukan buah favorit saya), jadi saya makan makanan manusia saja, seperti mi rebus dan teh panas. (kelelawar menatap saya sinis, menganggap saya telah mengkhianati spesiesnya). kelelawar biasanya terbang tak tentu arah dan tujuan, naik-turun-kiri-kanan-depan-belakang. saya tidak punya sayap, jadi tidak mungkin. berlarian tak jelas juntrungnya di jalanan depan rumah? bukan ide bagus. satpam biasanya waspada dengan manuver demikian, terkecuali saya punya telinga ala kelelawar dan selaput kulit di sela-sela jari saya sehingga mungkin saya akan dianggap sebagai Batman yang sedang patroli. jadi saya hanya memandang jalanan depan rumah, berharap ada kejadian menarik di sana.

10 menit memandang, tidak ada kejadian menarik. hanya sesekali mobil lewat, mobilnya itu-itu saja pula (sambil setengah berharap ada orang mengendarai VW New Beetle seri terbaru dan meninggalkannya beserta kuncinya di depan rumah saya lalu berteriak "aku sudah bosan dengan mobil ini... untukmu saja yaa..!!"). bosan melihat jalanan, saya lalu pergi ke beranda rumah, dan melihat langit...ada bintang! ternyata langit terlihat cerah saat tengah malam. tanpa pikir panjang lalu saya ambil selimut, kursi, lalu mulai memandang bintang, menelusurinya satu-persatu. saya lalu tertarik untuk menerka rasi bintang, dimulai dari Orion (yang paling jelas dengan deretan sabuk tiga bintangnya yang terkenal). lalu coba ke arah selatan, mungkin rasi bintang seperti layangan itu yang namanya Salib Selatan. berkeliling memandang, hanya dua yang bisa saya tebak. sudahlah, bisa melihat bintang saja sudah bagus untuk saya. semakin lama memandang, rasanya segala persoalan tersedot oleh Lubang Hitam nun jauh di sana. terus memandang, hati semakin tenang. jernih. melepaskan kekhawatiran. seolah mendapatkan semua solusi. keheningan.

*terima kasih kepada The Raconteurs yang menemani saya menulis dengan "Broken Boy Soldiers"-nya*

No comments: